ASPEK-ASPEK YANG TERABAIKAN DALAM USAHA PENENTUAN STRATEGI BELAJAR
(Oleh Novrianti, M.Pd)
A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan satu jalan yang harus ditempuh oleh setiap individu, sebagai salah satu upaya pengembangan potensi diri. Potensi tersebut dapat ditempuh dengan pendidikan baik itu jalur pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal memiliki jenjang yang harus dilewati secara teratur sesuai dengan ketentuan pendidikan nasional. Jejang pendidikan tertinggi dalam pendidikan formal adalah perguruan tinggi.
Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan tertinggi yang mendidik calon-calon sarjana dalam bidang tertentu. Melalui lembaga ini mahasiswa dapat didik menjadi orang yang ahli atau profesional dalam satu bidang keilmuan, dan sanggup mengabdikan dirinya untuk masyarakat dan negara. Untuk memenuhi pengabdian pada masyarakat dan negara maka seorang sarjana harus memiliki beberapa kualifikasi. Salah satu kualifikasi yang harus dimiliki menurut Ahmadi (1987:15) adalah berjiwa aktif, berinisiatif dan kreatif.
Pemenuhan akan kualifikasi tersebut sangat tergantung sekali pada kemampuan belajar. Belajar merupakan hal yang sangat penting dalam usaha menciptakan mutu dari sarjana. Strategi belajar yang digunakan mahasiswa akan sangat bergantung pada kesadaran akan pentingnya belajar bagi masa depannya. Belajar bagi seorang mahasiswa bukan hanya sebagai satu proses trasformasi pemikiran antara dosen dan mahasiswa yang diserta beberapa diklat. Belajar bagi mahasiswa mencakup keseluruhan aspek dalam lingkungan hidupnya.
Aspek-aspek pendukung belajar yang sering terlupakan bagi seorang mahasiswa, adalah seperti membaca, beserta teknik-tekniknya, pamahaman bahasa, teknik membereskan catatan hingga sampai pada pengetahuan akan perkembangan dunia. Seperti yang disampaikan oleh Buchori (1995: 132) bahwa :
Aspek-aspek yang sering terjadi pada mahasiswa kita ada tiga dasar kelemahan pertama ialah kemampuan bahasa para mahasiswa kita pada umumnya sangat lemah, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kedua kemampuan membaca cepat (rapid reading) dapat dikatakan tidak ada …. ketiga dasar ingin tahu terhadap hal-hal yang berarti kurang.
Berdasarkan kutipan diatas semakin jelas bahwa aspek-aspek yang terabaikan dari usaha peningkatan mutu mahasiswa melalui strategi belajarnya. Dalam usaha mengatasi aspek-aspek yang terabaikan tersebut, secara umum dapat dikatakan bahwa perguruan tinggi tidak berbuat banyak untuk mengatasinya. Hal ini mengingat adanya asumsi perguruan tinggi bahwa para lulusan sekolah menengah mempunyai kemampuan untuk mengatasi sendiri kekurangan dan kelemahan yang mendasar tersebut. Hal ini seharusnya tidak perlu dipertahankan lagi, mengingat begitu jauhnya ketertinggalan mahasiswa dalam menyadari kelemahan-kelemahan tersebut.
Kelemahan-kelemahan yang terlambat untuk disadari oleh mahasiswa tentu saja berawal dari adanya persoalan-persoalan yang menyangkut studi mahasiswa itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Utomo dalam Kartini Kartono (1985: 45) bahwa persoalan umum dalam studi mahasiswa seperti motivasi, sarana, kecerdasan, minat dan personaliti. Dari semua persoalan umum tersebut dapat diatasi dengan terselesaikannya satu persoalan khusus yaitu penentuan strategi belajar mahasiswa itu sendiri.
Dari uraian-uraian sebelumnya maka dapat ditarik satu kesimpulan bahwa yang menjadi permasalahan inti mahasiswa adalah kemampuan mahasiswa untuk menentukan strategi belajarnya. Untuk itu perlu suatu kajian yang setidaknya mampu membangunkan kembali aspek-aspek dalam belajar sebagai usaha penentuan strategi belajar. Berdasarkan hal tersebut maka diangkat suatu makalah yang berjudul “Aspek-Aspek yang Terabaikan dalam Usaha Penentuan Strategi Belajar“ sebagai usaha mencari pemecahan persoalan-persoalan mahasiswa.
B. Pembahasan
1. Aspek Keterampilan Dalam Membaca
Keterampilan pokok pertama yaang harus dikembangkan dan dikuasai oleh para mahasiswa adalah membaca bacaan pokok dan bacaan tambahan. Kenyataan yang sering terjadi adalah terlalu banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa membaca adalah sesuatu yang menakutkan bagi mereka. Mahasiswa beranggapan bahwa membaca adalah suatu beban pekerjaan. Banyaknya mahasiswa yang beranggapan bahwa membaca merupakan hal yang kurang menarik terutama pada bacaan pokok, kecuali ada tugas yang membutuhkan untuk benar-benar dibaca. Membaca adalah suatu kegiatan yang cukup berarti, sebab setelah kita selesai membaca satu buku, terkandang kita masih berkutat pada makna dari yang kita baca. Hal ini berakibat ada kemungkinan kita mengulang kembali membaca bacaan yang sama. Banyaknya waktu yang terkadang terbuang untuk memahami satu buku akan membawa mahasiswa akan tertinggal untuk mengetahui berjilid-jilid buku.
Untuk dapat melaksanakan beban setiap mahasiswa harus berusaha mengembangkan keterampilan membaca sehingga memiliki kemampuan sebagai pembaca yang efisien. Membaca akan menjadi suatu beban apabila mahasiswa tidak mengetahui cara yang pintar untuk melakukannya. Ciri-ciri seorang pembaca yang efisien menurut Gie (1998:59) adalah :
1. Memiliki kebiasaan yang baik dalam membaca
2. Dapat membaca secara cepat
3. Menangkap dan memahami isi bacaan
4. Selesai membaca dapat mengingat butir-butir gagasan utama dari bacaannya
Membaca bukanlah sekedar melihat dengan mata serangkaian kalimat yang tercantum pada satu bahan bacaan. Membaca sepintas lalu memang tidak sukar selama seorang mahasiswa sudah mengenal huruf. Namun membaca hingga dapat diketahui bahwa bacaan tersebut memberi manfaat sebesar-besarnya adalah suatu kemampuan yang harus dikembangkan secara sungguh-sungguh.
DePorter dan Miki Hernacki (2002:267) membagi membaca atas empat macam cara :
1. Reguler, cara membaca yang agak lambat dengan membaca baris demi baris seperti yang biasa kita lakukan dalam membaca bacaan ringan.
2. Skimming, yaitu membaca dengan kecepatan melihat yang tinggi
3. Scanning, digunakan untuk melihat isi buku atau untuk melihat sekilas
4. Warp Speed, adalah teknik membaca suatu bahan bacaan dengan kecepatan sangat tinggi dan dengan pemahaman yang tinggi.
Seorang mahasiswa sebaiknya memiliki keterampilan cara membaca tersebut. Hal ini akan sangat menentukan strategi belajar mahasiswa dalam usaha pencapaian tujuan belajarnya. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam usaha meningkatkan keterampilan membaca, salah satunya adalah berlatih dan berpedoman pada buku-buku yang berisikan cara membaca yang baik dan benar. Oleh karena itu perlu sekali adanya kesadaran mahasiswa sehingga dengan mudah menentukan strategi belajarnya. Selain itu akan terciptanya mahasiswa yang berkualitas dan berpengetahuan luas. Tentunya kebiasaan membaca ini harus dilatih dengan berlahan-lahan mengurangi kebiasaan yang salah dalam membaca, seperti mengulangi bacaan, membaca frasa per frasa. Seperti yang dinyatakan oleh Stine (2003 : 117) yang menyatakan “tiga kebiasan buruk dalam membaca adalah subvokalis, membaca kata demi kata, regresi”.
Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa subvokalis adalah suatu kebiasaan untuk mengulang kata pada saat kita membaca. Hal ini sering terjadi terkadang hingga berulang-ulang kali. Kebiasaan ini sering merayapi mahasiswa apabila sedang berusaha memahami suatu makna dalam bacaannya. Faktor utama terjadinya hal tersebut adalah kurang konsentrasi terhadap yang dibaca, sehingga kata-kata yang telah dilewati terpaksa harus diulangi kembali.
Membaca kata demi kata merupakan kebiasaan yang terbawa-bawa sejak mahasiswa mulai mampu mengeja pada saat duduk dikelas rendah. Kebiasaan ini sangat bermanfaat bagi sekolah dasar dalam menerapkan kemampuan membaca. Namun cara seperti ini akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi kemampuan dan kecepatan mahasiswa dalam membaca. Hal yang menyebabkan mahasiswa malas untuk membaca salah satu halnya mungkin dikarenakan lambatnya mereka dalam membaca, sehingga dibutuhkan beberapa hari untuk menyelesaikan sebuah buku dengan ketebalan sekitar 100 halaman.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu bagi seorang mahasiswa untuk mengkaji ulang tentang kebiasaan membacanya. Hal ini perlu dilakukan untuk mempermudah mahasiswa untuk menyelasaikan tugas-tugasnya terutama dalam tugas akhir untuk memperoleh kesarjanaan. Sehingga fenomena mahasiswa yang beraninya hanya mengutip dari skripsi atau tesis orang lain akan hilang.
2. Aspek Keterampilan Dalam Mempergunakan Bahasa
Berbahasa merupakan alat yang vital dalam kehidupan berkomunikasi manusia sehari-hari. Tanpa bahasa kita tidak mungkin ddapat berkomunikasi dengan lingkugan kita. Kerampilan berbahasa merupakan ketrampilan yang harus dikuasai secara secara baik dan benar oleh para anggota pendidikan tinggi terutama mahasiswa. Hal ini disebabkan mahasiswa akan berhubungan dengan penulisan–penulisan karya ilmiah dan melakukan presentase-presentase.
Ketrampilan berbahasa bagi mahasiswa bukan hanya pada bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa asing. Ketrampilan berbahasa harus dipelajari, dikembangkan, dikuasai oleh setiap mahasiswa sehingga dapat menjadi sarjana yang bermutu. Namun ketrampilan berbahasa terkadang tidak begitu dipermasalahkan oleh mahasiwa sendiri, sehingga akan menambah kelemahan-kelemahan mahasiwa sendiri. Seperti yang diungkapkan Buchori (1995 : 132) bahwa kemampuan bahasa para mahsiswa pada umumnya sangat lemah, baik itu bahasa Indonesia maupun bahsa asing. Lebih lanjut lagi Buchri (1995: 138) menyatakan bahwa :
Ketrampilan berbahasa akan sangat membantu dalam usaha peningkatan kemajuan untuk memahami bacaan, kamampuan untuk memahami pembicaraan dan kemampuan menyatakan fikiran dan perasaan secara lisan.
Berdasarkan kutipan di atas semakin jelaslah bahwa begitu pentinnya kamampuan berbahasa bagi seorang mahasiswa. Ketrampilan berbahasa yang dituntut terhadap mahasiswa tentunya ketrampilan berbahasa pada taraf ilmiah, jelas dan produktif. Oleh sebab itu mahasiswa harus mampu mengembangkan kemampuan berbahasanya mengingat begitu banyak kesalahan yang terjadinya pada penulisan-penulisan karya-karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa sendiri.
3. Aspek Ketrampilan Dalam Membuat Catatan
Mencatat yang efektif adalah salah satu kemampuan tepenting yang pernah dipelajari orang. Alasan utama untuk mencatat adalah bahwa mencatat meningkatkan daya ingat, tujuannya untuk membantu mengingat yang tersimpan dalam memori pikiran. Tanpa mencatat dan mengulangi kemungkinan orang hanya mampu mengingat sebagian kecil materi yang dibaca.
Membuat catatan sudah dilakukan oleh mahasiswa sejak dimulainya sekolah dasar. Namuan ketrampilan membuat catatan belum lagi dikuasai oleh mahasiwa dengan baik, sehingga tidak ada perbedaan catatan diwaktu sekolah dengan mengikuti perkuliahan. Mencatat semua yang dikatakan dosen selama memberi kuliah merupakan sesuatu yang tidak mengkin dilakukan. Untuk itu perlu dilakukan pencatatan hal-hal yang pokok saja. Pencatatan yang demikian bukanlah sesuatu yang mudah, tanpa mempunyai ketrampilan dalam membuat catatan.
Begitu pula terhadap sumber-sumber yang telah dibaca tidak akan sempurna hasilnya bila mahasiswa tidak melakukan pencatatan terhadap poin-poin yang dibacanya. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh bila mahasiswa melakukan pencatatan, seperti yang dikemukakan oleh Suryabrata (1989: 73) :
1. Ada jaminan bahwa dia telah mengerti atau menangkap isi hal yang dibacanya.
2. Dengan membuat catatan maka mahasiswa akan lebih meresapkan apa yang dipelajarinya.
3. Mahasiswa dapat mempelajari kembali isi bahan bacaan melalui catatan yang dibuatnya.
4. Ringkasan tersebut akan merupakan bahan yang sangat berharga untuk penulisan laporan, skripsi atau tesis.
Berdasarkan kutipan tersebut maka dapat dirasakan begitu besarnya manfaat dari membuat catatan. Perlu pengembangan ketrampilan dalam membuat catatan bagi seorang mahasiswa, sehingga keseluruhan poin pikiran dapat difokuskan pada satu tulisan. Membuat catatan seorang mahasiswa tidak sama dengan catatan seorang pelajar yang mebuat tulisan berlembar-lembar banyaknya. Hal ini tidak efektif dan tidak efesien bagi seorang mahasiswa yang harus memilki banyak ketrampilan-ketrampilan lain dan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung. Bukanlah suatu hal yang merepotkan bila mahasiswa mau membenahi catatannya kembali dengan mengikuti beberapa anjuran yang diberikan oleh para ahli seperti peta pikiran.
Peta pikiran memerluka kegiatan menulis kata kunci dari sesuatu yang ingin diingat oleh mahasiswa. Sub-gagasan penting dituliskan di dekatnya, dan dihubungkan kegagasan sentral dengan garis-garis penghubung. Kemudian gagasan-gagsan yang berhubungan dengan sub-gagasan dituliskan juga dan dihubungkan garis penghubung. Teknik ini pada akhirnya akan membentuk gambaran-gamabaran.
Menyimpan informasi dengan teknik ini akan lebih baik dari pada membuat catatan dan tentunya lebih menarik. Hal ini disebabkan dalam proses pembuatannya hanya dimengerti oleh mahasiswa sendiri yang menuliskannya. Sehingga secara tidak langsung akan memacu kecerdasan mahasiswa dalam menvisualisasikan dan menghubungkan dari setiap konsep-konsep materi yang didapatnya.
4. Berfikir Lebih Kreatif
Suatu usaha manusia untuk mencari makna atau penyelesaian dari sesuatu lebih dekat dikatakan dengan berfikir. Setiap manusia pada hakekatnya pasti selalu berfikir, namun tingkat keluasan berfikir akan selalu berbeda. Berfikir lebih keratif dan inovatif dalam menghadapi permasalahan dan situasi tidak akan dimiliki tanpa adanya pengetahuan yang luas. Hal ini merupakan salah satu tuntuan terhadap mahasiswa untuk mampu berfikir lebih kreatif.
Berfikir lebih krwatif tidak akan lahir secara tiba-tiba tanpa adanya kemampuan. Keingintahuan yang tinggi dan diikuti dengan ketrampilan dalam memebaca. Seperti yang diungkapkan oleh Porter & Hernacki (2002: 292) bahwa “seorang yang keratif selalui mempunyai rasa ingin tahu, ingin mencoba-coba bertualang serta intuitif”.
Berfikir kreatif berarti berusaha untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan melibatkan segala tampakan dan fakta pengolahan data di otak. ada lima proses kreatif yang diungkapkan oleh DePorter dan Mike Hernacki (2002:30) yaitu :
1. Persiapan , mendefinisikan masalah, tujuan atau tantangan
2. Inkubasi, mencerna fakta-fakta dan mengolahnya dalam pikiran
3. Iluminasi, mendesak kepermukaan, gagasan-gagasan bermunculan
4. Verifikasi, memastikan apakah solusi itu benar-benar memecahkan masalah
5. Aplikasi, mengambil langkah-langkah untuk menindak lanjuti solusi tersebut.
Proses keratif tersebut tentunya tidak akan dapat dilaksanakan tanpa adanya pengetahuan yang didapat melalui membaca, berbahasa dan aspek-aspek lain oleh sebab itu seorang mahasiswa dituntut dapat mengembangkan dan melatih pola pikirannya untuk lebih kreatif. Hal ini menujukkan bahwa proses mahasiswa telah menyelesaikan suatu proses pembelajaran dan pengembangan pemikiran dengan baik dan membuktikan bahwa strategi belajar yang dipilihnya sudah tepat dan berhasil.
C. Penutup
Aspek-aspek keterampilan membaca, berbahasa, membuat cacatan hingga berfikir merupakan hal yang diabaikan mahasiswa. Untuk memperbaiki dan mengembangkan kembali aspek-aspek tersebut butuh kesadaran yang tinggi dari mahasiswa itu sendiri. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk pengembangan tersebut, seperti banyak membaca dan mencerna buku-buku yang isinya memberi informasi tentang peningkatan aspek-aspek tersebut. Selain itu juga mahasiswa perlu lebih banyak berlatih dan mencoba penuh kepastian bahwa kita pasti bisa. Hal ini juga tidak terlepas dari dukungan pihak pengajar untuk memotivasi lebih banyak membaca dan menambah pengetahuan mahasiswanya. Segala sesuatu yang dilakukan tersebut akan sangat membantu dalam penentuan strategi belajar yang akan dilakukan oleh mahasiswa sendiri.
D. Daftar Pustaka
daftar pustakax mn