Permainan Pohon Pintar

Keberhasilan membina anak sejak dini merupakan kesuksesan bagi masa depan anak, sebaliknya kegagalan dalam memberikan bimbingan, pengasuhan, dan pendidikan merupakan bencana bagi kehidupan di kemudian hari. Begitu  beratnya tugas seorang pendidik, karenanya keberadaanya Taman Kanak-Kanak (TK) sangat penting sebagai landasan utama proses pendidikan formal. TK didirikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar linkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan sekolah dasar. Untuk itu pendidik seharusnya menyadari kegiatan apa yang sesuai dengan tuntutan, kebutuhan, dan minat anak, sehingga potensi yang ada pada anak dapat berkembang secara optimal.

Bagaimanapun bentuk pendidikan di TK semestinya tetap merupakan tempat yang menyenangkan yang memberikan rasa aman, nyaman, menarik bagi anak serta  mendorong keberanian aktivitasnya yang dapat merangsang anak untuk bereksepolrasi secara optimal. Pembelajaran  di TK prinsipnya adalah “Bermain Sambil Belajar, Belajar Seraya Bermain”. Dengan bermain anak menemukan dan mendapatkan pengalaman dari dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya, maka  pembelajaran mesti dibungkus dalam permainan.

Belajar dengan bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekan dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya. Dan guru merupakan komponen utama yang menjadi penggerak dari inovasi pendidikan. Oleh sebab itu guru selalu dituntut profesional dan kreatif dalam menyediakan sarana berupa alat peraga atau alat permainan yang sesuai dengan ketentuan aspek perkembangan anak dan menarik minat anak sehingga dapat menunjang kesempatan untuk mengembangkan potensi perserta didik.

Bermain

Bermain merupakan salah satu fenomena yang paling alamiah dan luas dalam kehidupan anak. Bermain adalah tahap awal dari proses panjang belajar pada anak-anak yang dialami oleh semua manusia. Melalui bermain yang menyenangkan anak menyelidiki dan memperoleh pengalaman yang kaya baik dengan dirinya sendiri, lingkungan maupun orang disekitarnya, dapat mengorganisasi berbagai pengalaman dan kemampuan kognitif, sosial, emosi, moral, bahasa, seni.

Bermain tak dapat dilepaskan dari sudut pandang teori yang mendasari yaitu tujuh pandangan utama bermain antara lain :

  • Surplus Energi, bermain merupakan penyaluran energi yang berlebihan.
  • Relaxation dan recuperation, bermain cara seseorang untuk menjadi lebih santai dan segar (relaxation dan recuperation) setelah tersalur energi.
  • Preparation. adanya hubungan antara kegiatan dimasa anak – anak dengan kegiatan dimasa dewasa,
  • Recapitulatition, pandangan ini mencoba menemukan hubungan antara kegiatan bermain dengan evolusi kebudayaan.
  • Growth dan enhancement, menyatakan bermain merupakan salah satu cara mengembangkan kemampuan anak.
  • Sociemotionel expression, bermain merupakan ekspresi simbolik dari suatu harapan dan upaya pengendalian pengalaman-pengalaman yang menyenangkan. Dan bermain merupakan sebagai sarana menyalurkan emosi.
  • Cognitive restructuring, pandangan ini menyatakan bahwa bermain adalah suatu upaya asimilasi. Asmilasi adalah proses dimana organisme menerapkan struktur yang sudah ada tanpa modifikasi terhadap aspek – aspek baru dari lingkungan yang dihadapinya.

 Karakteristik Bermain

  • Pengaruh positif. Tingkahlaku itu menyenangkan atau menggembirakan untuk dilakukan.
  • Bukan dikerjakan sambil lalu. Tingkahlaku itu bukan dilakukan sambil lalu, karena itu tidak mengikuti pola atau urutan yang sebenarnya, melainkan lebih bersifat pura – pura.
  • Cara atau tujuan. Cara bermain lebih diutamakan dari pada tujuannya anak lebih tertarik pada tingkahlaku itu sendiri dari pada keluaran yang dihasilkan.
  • Kelenturan. Bermain itu perilaku yang lentur. Kelenturan ditunjukkan baik dalam bentuk maupun dalam hubungan serta berlaku dalam setiap situasi.
  • Bermain membawa harapan dan antisifasi tentang dunia anak memberikan kegembiraan dan kemungkinan anak berkhayal seperti sesuatu atau seseorang, suatu dunia yang dipersiapkan untuk bertualang dan mengadakan telaah terhadap suatu dunia anak-anak.

 Menurut Hartley, dkk (Moeslichatoen, 1985 : 268 ) ada 8 Fungsi bermain bagi anak :

  • Menirukan apa yang dilakukan orang dewasa. Contohnya Dokter mengobati orang sakit, meniru ibu memasak didapur dan sebagainya.
  • Untuk melakukan berbagai peran yang ada dalam kehidupan nyata seperti guru mengajar di kelas, sopir mengaendarai bus, dan sebagainya
  • Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata. Contoh ibu mendidik adik, kakak mengerjakan tugas sekolah dan sebagainya.
  • Untuk menyalutkan perassab yang kuat seperti memukul – mukul kaleng, menepuk – nepuk air dan sebagainya.
  • Untuk melepaskan dorongan – dorongan yang tidak dapat diterrima seperti berperan sebagai pencuri, menjadi anak nakal, pelanggar lalu lintas, lain – lain.
  • Untuk kilas balik peran – peran yang biasa dilakukan seperti gosok gigi, sarapan pagi, naik angkutan kota dan sebagainya.
  • Mencerminkan Pertumbuhan seperti pertumbuhan misalnya semakin bertambah tinggi tubuhnya, semakin gemuk badannya dan semkin dapat berlari cepat.
  • Untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalah seperti menghias ruangan, menyiapkan jamuaan makan, pesta ulang tahun.

 Alat Permainan

Alat Permainan adalah semua alat bermain yang digunakan oleh anak untuk memenuhi naluri bermainnya dan memiliki berbagai macam sifat seperti bongkar pasang, mengelompokan, memadukan, mencari padanannya, merangkai, membentuk, menyempurnakan suatu disain, menyusun sesuai bentuk utuhnya. Bermain dengan mengunakan alat permainan akan mendapatkan masukan pengetahuan  untuk ia ingat. Alat permainan  merupakan bahan mutlak  bagi anak untuk mengembangkan dirinya yang menyankut seluruh aspek perkembangannya. Menurut Meyke Sugianto, (Anggani,1995:62) Mengatakan: Alat permainan adalah alat bermain yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan  pendidikan.

Menurut  mentossori (Anggani sudono, 1945 : 7) alat permainan  bagi anak dimulai dari tahap yang paling mudah, anak hanya diminta unuk megenal konsep warna, konsep bilangan, mengelompokan warna, membentuk dan membongkar kembali.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan alat permainan  merupakan, suatu wahana untuk membantu anak dalam kegiatan bermain, alat tersebut dapat digunakan  dalam kegiatan  belajar mengajar  yang berlangsung secara teratur, lancar, efektif dan efisien.  Sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak denga adanya alat permainan mengenalkan angka warna buah melalui pohon pintar anak akan termotivasi dalam memainkannya serta dapat  mengembangkan dimensi – dimensi  yang dimiliki oleh anak.

Fungsi alat permainan

Menurut  Sachiyo Tanaka ( Sudono, 1995 ) Fungsi alat permainan adalah :

  • Mengembangkan kemampuan berpikir anak
  • Pemahaman tentang linkungan sekitar anak
  • Meberikan rangsangan pada anak
  • Memberi kaenangan pada anak
  • Mengembangkan sosialisasi anak
  • Mengembangkan kreativitas anak dan motorik anak

Sedangkan menurut Sudono (1995:19) mengatakan fungsi alat permainan adalah untuk mengenal lingkungan serta mengajak anak untuk mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya, meningkatkan aktivitas sel otak anak yang akan mempelancar proses pembelajaran dan memberikan  kesempatan  pada seluruh panca indra anak aktif  melakukan kegiatan permainan.

Dari dua Pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi bermain adalah melatih panca indra supaya anak peka terhadap sesuatu yang ada dilingkunganya dan mengembangkan seluru aspek perkembangan anak.

Syarat  Alat Permainan

Alat permainan yang diberikan kepada anak harus bersifat praktis, Sebab semua anak akan dapat menggunakan  alat permainan secara bebas sehingga  anak senang bemain, berimajinasi, dan bekerja sama. Untuk itu alat permainan yang dibuat hendaklah memperhatikan tingkat perkembangan anak dan memperhatikan beberapa persyaratan dalam  memilih alat permainan. Sesuai dengan yang dikemukakan Thelma Harms (Moeslichatoen, 1985 : 214) dalam memilih bahan dan peralatan bermain  ada beberapa persyaratan yaitu :

  • Bahan multi guna yang dapat memenuhi bermacam tujuan pengembangan seluruh aspek perkembangan anak
  • Mudah diperoleh dan mudah digunakan
  • Menarik serta dapat memuaskan kebutuhan anak dan menyentuh perasaan mereka
  • Sesuai dangan Filsafah dan Kurikulum Yang dipakai
  • Mencerminkan Kraketristik tingkat usia kelompok anak
  • Tidak mudah rusak Atau tahan lama
  • Mudah dirawat dan diperbaiki
  • Mencerminkan peningkatan budaya kelompok
  • Memilih bahan tidak membedakan jenis kelamin dan tidak meniru – niru.
  • Mencerminkan kwalitas rancangan dan keterampilan kerja
  • Tidak berbahaya.

Berdasarkan keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa alat permainan yang dibuat hendaklah memperhatikan tingkat perkembangan anak dan alat permainan yang penulis rancang  sesuai denan syarat – syarat diatas.   

Jenis alat permainan

Alat permainan di TK berdasarkan penempatan dapat dikelompokan menjadi dua bagian yaitu:

  • Alat permainan didalam ruangan ini adalah suatu alat permainan yang berada dalam ruangan kelas dan dapat dipergunakan anak dalam pembelajaran sehari – hari seperti: balok – balok, menyusun puzzle, majalah, bentuk- bentuk geometri, buku cerita, krayon, alat perlengkapan sholat, iqra’, kertas lipat, alat musik seperti piano, gitar, papan pasak, boneka, plastisin, dan sebagainya.
  • Alat permainan yang berada diluar ruangan. Suatu alat permainan yang letaknya diluar kelas atau dihalam sekolah yang sifatnya menetap ( permanen ) dapat dipergunakan saat anak datang pagi ke sekolah dan saat istirahat sesudah selesai dari kegiatan pembelajaran, jenis – jenis alat permainan seperti ayunan, jungkitan, papan seluncuran, bola dunia, balok titian dan lain – lain.

Dilihat dari keterangan di atas maka alat permainan yang penulis rancang bisa dimainkan didalam dan diluar kelas dan dapat digunakan dalam beberapa area yaitu area matematika, area bahasa, area IPA, area seni, area drama, serta dapat dimainkan secara individu maupun kelompok.    

Permainan mengenalkan angka warna buah melalui pohon pintar

Bahasa

Bahasa merupakan bentuk utama dalam mengekspresikan pikiran dan pengetahuan bila anak mengadakan hubungan dengan orang lain. Anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik pada umumnya memiliki kemampuan yang baik pula dalam mengungkapkan pemikiran, parasaan, serta tindakan interaktif dengan linkungannya, kemampuan berbahasa ini tidak  selalu didominasi oleh kemampuan membaca saja tetapi juga terdapat sub potensi lainnya yang memiliki peranan yang lebih bersar seperti penguasaan  kosa kata, pemahaman (mendengar, menyimak) dan kemampuan  berkomunikasi.

Menurut Lerner (Sudono,1981:62) bawah dasar perkembangan utama bahasa adalah:  “Pengalaman-pengalaman bahasa yang kaya itu akan menunjang fakto-faktor bahasa lain yaitu mendegar, berbicara, membaca dan menulis. Mendengar dan membaca termasuk keterampilan bahasa yang menerima atau respektif sedangka berbicara dan penulisan atau mengarang  termasuk yang ekspresif “.

Menurut Welton dan Mallon, (Moeslichatoen 2004) mengatakan: Anak yang sedang tumbuh kembang mengkomunikasikan kebutuhannya, pikirannya, dan perasaanya melalui bahasa dengan kata – kata yang mempunyai makna unik dan kemampuan anak masih terbatas untuk memahami bahasa dari pandangan orang lain.

 Bilangan / Angka

Konsep bilangan adalah himpunan benda – benda atau angka yang dapat memberikan sebuah pengertian.konsep bilangan ini selalu dikaitkan dengan pekerjaan menghubung – hubungkan baik benda – benda maupun dengan lambang bilangan. Menurut Montessori dalam Anggani Sudono (1995 : 2 ) mengatakan : bahwa dengan bermain anak akan memiliki kemampuan untuk memahami konsep dan pengertian secara alamiah tanpa paksaan seperti konsep bilangan dan konsep warna.

Selanjutnya menurut  Soemiawan (2002 : 8 ) Menyatakan : anak usia  4 – 5 tahun harus sudah memahami dua konsep dasar yaitu: hubungan satu kepada satu (one to one) dan konservansi (concervation) yang dimaksud konsep satu kepada satu adalah : tema maupun untuk melihat kesamaan jumlah satu objek dangan satu objek yang lain misalnya: kepada anak diberikan satu set barang yang terdiri dari pinsil, peruncing, buku, bola. Kemudian diberikan kantong barang yang berisi sejenis barang yang sama dengan satu set barang yang pertama. Anak diminta menggantongi benda-benda yang sama sejenis dengan benda-benda dalam kantong yang diberikan. Konsep konservansi adalah kemampuan yang memahami benda tetap jumlah maupun isi atau bentuknya berubah.

Warna

Anak usia prasekolah mempunyai rentang perhatian  terbatas dan masih sulit diatur belajar dengan serius. Oleh sebab itu pengenalan warna dilakukan dengan bermain karena pengetahuan konsep warna jauh lebih mudah diperoleh anak  melalui bermain dan dengan bermain anak merasa senang dan tanpa ia sadari ternyata ia sudah kenal dengan berbagai warna.

Menurut Achmat Hidayat (2004 : 3) menyatakan : Warna merupakan salah satu unsure yang melengkapi suatu benda. Warna terjadi dari sekumpulamn pigmen atau butir – butir warna yang terkena cahaya baik cahaya matahari maupun cahaya lampu dan bisa melekat pada apa sasja seperti pada benda padat, cair maupun benda gas.

Dalam kamus Bahasa  Indonesia II, warna adalah kesan yang diperoeh dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenainya. Warna merupakan elemen yang paling umum diasiosiasikan dengan  estetika (ilmu tentang keindahan dalam seni). Secara intelektual warna – warna  itu dihasilkan di dalam otak kita sebagai hasil dari gelombang cahaya  yang mengenai retina mata karena gelombang hanya dapat diterima mata tertentu saja yaitu antara 380 milimicron (violet) dan 760 milmicron (merah). Disamping itu warna mempunyai kualitas emosional yaitu efek yang bersifat psikologis atau menyangkut unsur kejiwaan misalnya : memberi kesan cerah, Bahagia, hangat, murung, dan sebagainya.

Dalam hal ini tedapat bebagai jenis warna  dan  jenis warna  yang harus diketehui oleh anakn  adalah sebatas wrana yang ada dilingkungan nya sehari – hari yaitu terdiri dari :

  • Warna alam ( natural color ) yaitu wrana yang terjadi akibat proses alam seperti pelangi, batu permata, pohon, batang, daun, buah dan bijian, langit laut gunung mega, lembayung awan dan lain – lain.
  • Warna buatan ( artificial color ) yaitu warna yang sengaja dibuat oleh manusia untuk keperluan tertentu seperti: cat, tinta, pensil, warna, spidol, krayon, perwarna buatan haptol, soga dan lain – lain.

Menurut Brawster ( Achmad Hidayat, 2004) warna dapat dibagi – bagi dalam kelompok warna seperti :

  • Kelompok warna primer yaitu warna murni yang belum tercampur dengan warna apapun seperti: merah, kuning biru.
  • Kelompok warna sekunder yaitu pencampuran dari warna primer seperti :
  • Warna hijau terjadi dari pencampuran dari warna biru dengan kuning.
  • Warna ungu terjadi dari pencampuran dari warna biru dengan merah.
  • Warna jingga terjadi dari pencampuran dari warna merah dan kuning.
  • Kelompok warna tersier yaitu warna pencampura dari ketiga warna primer atau pencampuran wrana dari satu warna primer dengan satu warna sekunder hasilnya menjadi warna coklat
  • Warna kontras yaitu warna-warna yang bersebrangan seperti merah terhadap biru
  • Warna analogous (persamaan) ialah warna yang berdekatan seperti warna kuning ke orange atau biru ke ungu.

Fungsi Warna

Dalam kehidupan sehari-hari warna mempunyai banyak fungsi antara lain untuk dekorasi yaitu untuk menghias berbagai macam barang prabotan, rumah, asessoris, untuk makan dan minuman sebagai penambah selera makan dan minuman, untuk melukis dan disain serta untuk pengobatan yaitu sebagai terapi penyembuhan.

Berdasarkan keterangan di atas mengenalkan konsep warna pada anak sangat penting sekali hal ini disebabkan karena  semua anak senang akan warna dan suka bermain dengan warna serta senang pada semua yang berwarna dan tertarik pada apasaja yang memiliki warna, jadi secara otomatis anak akan menari rasa keingintahuannya untuk mempelajari semua benda-benda tersebut. Oleh sebab itu alat permainan yang penulis rancang menggunakan warna-warna yang menarik sehingga anak bersemangat dalam bermain dan dapat memperkaya pengetahuan anak tentang warna.

Mengenal permainan pohon pintar

Menurut kamus Bahasa Indonesia Dekdibud (1988 : 686, 691) pengertian pohon adalah: tumbuhan  yang berbatang keras dan besar. Dan bahagian yang permukaan atau yang dianggap pangkal, dasar. Sedangkan pengertian pintar  yaitu: pandai, cakap, cerdik, banyak akal dan mahir mengerjakan sesuatu.

Dari keterangan di atas  dapat disimpulkan  permainan mengenal angka warna buah melalui pohon pintar  yaitu suatu alat permainan menggunakan  sebatang pohon yang telah dibentuk semenarik mungkin serta menggunakan buah-buah, angka sehingga dapat membantu anak dalam meningkatkan potensi dan kecerdasan, kreativitas yang ada dalam diri anak agar berkembang secara optimal sesuai dengan pertumbuhan dan aspek perkembangan anak.

Dalam permainan yang penulis rancang ini anak dapat mengenal, menyebutkan, menunjukan mengelompokan, memasangkan buah dan angka ke pohon sesuai jumlahnya, anak mengenal kata yang ada pada gambar, serta menyelesaikan  kegiatan permainan dengan gembira. Dan melalui permainan ini anak dapat mengembangkan kemampuan bahasanya serta dapat menambah kosa kata. Alat permainan juga dapat membuat anak lebih aktif dan kreatif sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung menyenagkan secara efektif dan efisien.

Aspek  – Aspek yang dikembangkan

Permainan mengenal angka warna buah melalui pohon pintar dapat mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang ada dalam diri anak, berikut ini dimensi-dimensi yang perlu untuk dikembangkan yaitu :

  • Perkembangan Bahasa

Anak-anak mengembangkan  kemampuan bahasa dengan petunjuk khusus, melalui observasi dan mengenal orang dewasa berbicara, jika orang dewasa orang dewasa dilingkungannya terbiasa berbicara baik dengan susunan kalimat lengkap dan tata bahasa baik maka anak akan memiliki kemampuan bahasa yang baik pula. Proses bahasa ditentukan oleh matangnya perkembangan bagian mulut, kontrol diri saluran napas bagian atas, lidah, pergerakan bibir, pengaturan mekanisme pernapasan Serta berkembangnya  alat pendengaran dan penglihatan yang normal. Adanya peningkatan sistim syaraf pada anak, maka akan meningkatkan  kemampuan anak dalam mengekspresikan bahasa.

Menurut Hetherington (Moeslichatoen,1998) Tahap perkembangan bahasa anak usia TK (5-6 tahun) ditandai oleh berbagai kemampuan  yaitu:Mampu menggunakan kompleks sintaksis, Kosa kata mencapai 14000, Perkaembangan kesadaran metalinguistik (kesadaran akan belajar mengenai fungsi bahasa sebenarnya).

Menurut Wiguna dan Noorhana, (2001) menyatakan ” Bahasa merupakan segala bentuk komunikasi dimana  pikiran dan perasaan  manusia disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti kepada orang lain. bahasa merupakan alat komunikasi  untuk menjalin persahabatan dan belajar banyak hal disekitarnya. Melalui komunikasi anak akan mampu membentuk dan membangun suatu pemahaman pengetahuan baru tentang berbagai hal. Hal ini menunjang kepercayaan diri anak dalam memasuki lingkungan yang baru “. 

Perkembangan bahasa ini sangat berhubungan dengan kemampuan  emosi dan sosialisasilnya karena keterlibatan yang semakin besar dengan teman sepermainan menunjukan peningkatan  kemampuan sosisalisasi anak dan melatih  mereka untuk  mengasah bahasanya.

  •  Perkembangan kognitif.

Dunia kognitif anak usia TK ialah kreatif, bebas dan penuh imajinasi. Perkembangan kognitif anak berfokus pada tahap pemikiran  praoperasional. Pada tahap ini pemikiran anak masih didominasi oleh hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas fisik dan persepsi sendiri. Menurut Prayitno (2000) menyatakan perkembagan kognitif     yaitu :

Perkembangan berpikir anak usia TK masih sangat sederhana  mereka mulai berpikir dengan mempergunakan mental maupun cara kerjanya tidak sempurna, berpikir belum logis dan sangat dikuasai oleh khayalan dan imajinasi mereka. 

Ciri Khas Tahapan  Praoperasional adalah:

  • Cara berpikir prakonseptual adalah cara berpikir transduktif artinya menarik kesimpulan yang bersifat khusus, tahap ini anak mulai membentuk konsep yang belum sempurna.
  • Cara berpikir Intuitif (4-7 tahun) pada periode ini anak memecahkan masalah tidak secara logis tetapi lebih berdsarkan intuitif. Krakteristik yang paling menonjol pada tahap ini adalah kegagalan dalam mengembangkan konservasi yaitu kemampuan untuk memahami bahwa jumlah, panjang atau area akan tetap sama meskipun disajikan dengan cara berbeda-beda.

Menurut Piaget keemasan anak yang memberikan  perlengkapan  sensori dan struktur otak  yang diperlukan, namun kegagalan tetap dibutuhkan untuk mengembangkan  kemampuan anak. Menurut Piaget pada tahap ini dikenal dengan istilah Rigidity Of Though  artinya  bahwa usia ini anak mempunyai dorongan ingin tahu yang tinngi. Dorongan ini diwujudkan dengan bentuk bertanya. Kemampuan yang dapat dilihat dari tahap ini adalah :

  • Permasalahan simbolis merupakan suatu hal yang abstrak menuju hal sebenarnya
  • Imitasi yaitu dapat meniru
  • Bayangan dalam mental imege (kesan-kesan yang tertinggal dalam ingatan).

Tujuan dari pengembangan kognitif adalah: agar anak didik mampu menghubungkan pengetahuan yang sudah diketahui dengan pengetahuan yang baru yang diperolehnya seperti mengembangkan kemampuan berpikir logis dalam pengetahuan akan ruang dan waktu.

Fungsi pengembangan kognitif adalah untuk mengenal lingkungan sekitar pada anak, mengenal konsep bilangan dengan benda, melatih anak berfikir logis, Memberi kesempatan pada anak untuk melakukan kegiatan  bermain sambil belajar, belajar seraya bermain, dan melatih anak agar mampu menggunakan pancaindara untuk mengenal lingkungan serta manfaat dan bahayanya.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan anak usia TK cara berpikirnya kongkrit permukaan, di sini anak belum dapat memmbedakan antara yang nyata dengan khayalan. bagi anak khayalan merupakan suatu kenyataan sehingga menceritakan fantasi sebagai suatu yang benar-benar terjadi dengan ciri inilah bahwa sifat egosentris anak masih sangat menonjol. Anak berbicara sesuai dengan yang dilihatnya  itu lah sebabnya mengajar di TK banyak menggunakan alat peraga karena alat peraga sangat penting sekali dalam meningkatkan kognitif anak.

  • Motorik

Kegiatan belajar mengajar di TK memberikan kesempatan mengembangkan keterampilan motorik kasar, dan motorik halus, serta juga mengembangkan keterampilan koordinasi mata dan tangan dan seluruh anggota tubuh. Menurut Gunarsa, (Moeslichatoen, 2004) menyatakan: Dengan meningkatnya usia akan terlihat adanya perkembangan dari gerakan  motorik kasar kearah gerakan motorik halus yang memerlukan  kecermatan dan kontrol yang lebih baik. 

Secara fisik anak usia 4-6 tahun makin berkembang sesuai bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur sistem syaraf otak yang membuat anak menjadi lincah dan aktif bergerak.

  •  Perkembangan Emosi

Emosi adalah ungkapan, ketegaran jiwa, respon jiwa terhadap suatu objek yang menyebabkan fisik jadi berubah, objeknya bisa orang, bias benda. perkembangan emosi penting dalam hidup individu.Tiap bentuk emosi pada dasarnya membuat hidup terasa lebih menyenangkan, karena emosi anak akan merasakan getaran-getaran perasaan dalam dirinya maupun orang lain.

Menurut Ashiabi (Rita Eka Izzaty, 2005:65) menyatakan bahwa: Emosi merupakan reaksi yang terorganisir terhadap suatu hal yang berhubungan dengan kebutuhan, tujuan, dan ketertarikan serta minat individu. Selanjutnya Wetson (Shafiro, 2003) menyatakan bahwa manusia lahir dibekali dengan tiga pola emosi dasar bawaan yaitu: takut marah, dan cinta. Shafiro (2005:395) juga mengatakan beberapa jenis emosi yaitu: kebahagian, marah, kesedian, kekecewaan dan lain-lain dari emosi dasar.

Menurut Kurt Fischer dan Kolegannya Shafiro (2003) mengatakan: “Setiap emosi muncul dari tahap proses yang luas: pertama menerima suatu situasi individu dengan cepat mengevaluasi peristiwa yang dihadapi.oleh karena itu kita harus dapat mengontrol emosi sebab emosional dapat membuat manusia sejahtera atau bahagia dan dapat juga menghancurkan kehidupan diri sendiri dan juga dengan lingkungan pergaulan sehari-hari “.

Perkembangan emosional berarti memiliki perilaku dan perhatian terhadap orang lain: saling berbagi, membantu, mengasihi, tenggang rasa. Menurut William Deman dalam Shafiro anak harus mendapat keterampilan emosional dan sosial antara lain:

  • Harus memahami perbedaan perilaku baik atau buruk.
  • Mereka harus mengembangkan kepedulian, perhatian dan rasa tanggung jawab dan hak-hak orang lain yang di ungkapan melalui sikap peduli, dermawan ramah dan pemaaf.
  • Mereka harus merasakan reaksi emosi negatif seperti : malu, marah, takut, dan lain-lain

Emosi terlihat dari reaksi fisiologis, perasaan dan perubahan prilaku yang dua fungsi. Emosi anak berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan orang tua, kemudian orang-orang lain dilingkunganya. perkembangan emosi pada anak-anak memiliki implikasi yang panjang pada kemampuaan adaptasi anak di prasekolah maupun sekolah dalam berhubungan dengan teman sebaya.

Emosi nampak pada anak usia TK yaitu:

  • Sebagai pendorong emosi, akan menentukan prilaku anak melakukan sesuatu: contoh anak merasa senang dengan jenis permainan puzzle, perilaku yang nampak pada anak adalah apabila melihat puzzle ia akan bermain puzzle dengan gembira.
  • Sebagai alat komunikasi, dengan reaksi emosi anak akan memperlihatkan apa yang dirasakanya, contoh: pada awal permulaan masuk TK, anak menunjukan reaksi menangis bila berpisah dengan ibunya.

Ashiabi (Rita, 2005) menyebutkan lima strategi pendidik untuk meningkatkan perkembangan anak – anak usia TK yaitu:

  • Memberikan waktu untuk menghargai orang lain
  • Menyediakan waktu untuk mengekspresikan perasaan
  • Adanya kegiatan yang mendorong kasih saying
  • Mengajarkan teknik pengelolaan emosi, agar anak dapat mengatur diri dan kemampuannya apabila mengekspresikan emosi negatifnya di luar kendali dirinya.
  • Pendekatan pemecahan masalah sosial.

Dari keterangan di atas penulis berharap alat peraga yang penulis rancang dapat mengurangi ketegangan dan kesedihan. karena dalam permainan anak akan merasa terhibur dan bahagia. serta anak akan mempunyai penilaian terhadap diri tentang kekurangan dan kelebihannya. Dan dapat membentuk konsep diri yang positif mempunyai rasa percaya diri. serta anak dapat mengendalikan emosinya dalam bermain seperti dapat  antri atau bergiliran dalam mengunakan alat peraga atau permainan.

  • Perkembangan Sosial dan Moral

Perkembangan sosial dan moral berkaitan dengan aturan tentang apa yang seharusnya di lakukan dalam interaksinya dengan orang lain. Menurut Goffman (Elida dan Erlasyah, 1999:82) mengatakan bahwa dengan bermain dapat membantu anak dalam perkembangan kognitif dan sosialnya. Dengan bermain bersama teman sebayanya anak akan belajar berbagai hak milik, mengunakan mainan secara bergiliran, melakukan kegiatan secara bersama, mempertahankan hubungan yang sudah terbina, mencari pemecahan masalah yang dihadapi.

Bentuk dan perkembangan sosial anak dapat di lihat dari bagaimana anak dapat bergaul dengan teman sebaya, semakin dapat anak bergaul dan berkomunikasi dengan teman maka semakin bagus perkembangan sosial anak. Dan keterlibatan yang semakin besar dengan teman sebaya menunjukkan peningkatan pesat kemampuannya bersosialisasi. Moral adalah tata cara kebiasaan dan adat atau ajaran baik dengan buruk yang diterima mengenai sikap dan kewajiban serta tingkah laku yang sesuai dengan norma-norna adat kebiasaan suatu budaya di masyarakat.

Menurut Piaget (Hurlock, 1986) mengatakan ada kaitan antara perkembangan moral dan perkembangan kognitif anak seperti:

  • Tahap operasional, dimana anak mampu memahami cara berfikir orang lain
  • Tahap rasionalisasi moral, perilaku moral anak terikat pada keputusan akan peraturan tanpa memahami alasan.
  • Tahap moral realisme, dimana perilaku anak terlihat memandang aturan sebagai suatu kesepakatan sosial.

Oleh sebab itu proses pembentukan perilaku anak moral tidak terlepas dengan adanya disiplin dan memiliki kesiapan untuk hidup ditengah masyarakat.

Arthur (Izzaty, 1998) berpendapat bahwa ada beberapa yang dapat diberikan oleh pendidikan TK melalui program kegiatan belajar yang dapat mengembangkan perkembangan sosial dan moral diantaranya:

  • Memberikan kesempatan yang beragam tentang arti penting sosial interaksi melalui berbagai macam aktivitas seperti : Permainan dengan tim, bermain sosio drama, atau pun mendongeng yang berkisah moral dalam pergaulan sosial.
  • Mengontrol perilaku anak dalam merespon hal yang benar dan salah patut ditanamkan.
  • Mendorong kontrol diri dalam berperilaku dan mengekspresikan perasaan
  • Memberikan contoh-contoh model yang tepat diharapkan anak dapat terbiasa mengendalikan perilaku dalam berbagai macam konteks lingkungan.

Berdasarkan keterangan di atas penulis merancang alat permainan ini agar dapat membantu perkembangan sosial dan moral anak seperti: anak dalam bermain dapat bekerja sama, anak dapat menghargai  keberhasilan sesama temannya, anak saling berkomuniksi dan anak dapat belajar  tentang  budaya, kebiasaan dan standar moral, aturan yang harus dipatuhi dalam permainan ini serta membuat kegiatan pembelajaran menjadi menyenangkan efektif dan efesien.

Permainan mengenal angka warna melalui pohon pintar dapat membantu perkembangan sosial dan moral anak seperti anak dalam bermain dapat bekerja sama degan temannya, misal : membantu temannya mengambil buah apel atau membantu temannya untuk memasangkan buah apel tersebut sehingga hubungan antara anak dapat terbina dengan baik. Dalam permainan  ini anak terlihat saling menghargai keberhasilan sesama temanya, saling berkomunikasi dan bekerja sama untuk mencari dan memasangkan angka semua jumlah buah yang terdapat pada pohon pintar, serta anak dapat belajar tentang system nilai, kebiasan, budaya dan standar moral yang dianut oleh masyarakat, dan belajar mematuhi aturan yang telah diepakati bersama dalam melakukan permainan.

 Teknik pembuatan pohon pintar

Permainan mengenal angka warna buah melalui pohon pintar membutuhkan bermacam – macam bahan dan alat seperti dibawah ini :

  • Bahan, Kayu Papan 25 cm dua buah, Kayu Reng  ± 3 Meter, Papan Triplek  2 Meter, Karton Mal, Paku, Paku Gantungan, Lem Banteng dan Isolasi berwarna, Cat Semprot, Rumput Plastik, Macam – Macam Buah-Buahan dari Plastik, kawat
  • Alat, Gergaji, Pisau cater, Martil, Pensil, Spidol, Rol Siku.

 Prosedur pembuatan Alat Permainan

Cara Membuat Pohon Pintar

  • Menyiapkan bahan dan alat
  • Mengukur kayu reng sesuai dengan ukuran yang diinginkan, untuk batang atau pohon 100 cm. dan dahan atau cabangnya dengan ukuran 50 cm, 40 cm, 30 cm, 20 cm.
  • Memotong kayu reng sesuai ukuran yang telah ditentukan dan meraut kayu tersebut supaya berberntuk bulat seperti batang pohon sebanyak lima buah dan yang satu lebih besar untuk batang pohonnya dan tiga lagi untuk cabang atau dahannya.
  • Pada bagian batang yang telah ditentukan di pahat sedikit untuk memasang dahan supaya mudah dipaku dan agar dahan kuat dan kokoh.
  • Memasang cabang – cabang tersebut kebatang dan memasangkan lem di seluruh batang dan melilitkan busa spon ke semua batang kemudian melilitkan isolasi keseluruh batang yang sudah dipasang spon busa tersebut.
  • Membuat daun dari busa spon kemudian diberi warna agar menarik dan kemudian memasangkannya di dahan kayu atau pohon
  • Memasang paku gantung di batang pohon untuk menggantungkan buah – buahan dan angka.
  • Agar pohon dapat berdiri dengan kokoh dan kuat serta tidak mudah jatuh maka pohon di beri alas atau kaki yang terbuat dari kayu papan dengan ukuran 25 cm. supaya lebih menarik diatas alas pohon tersebut diberi rumput plastik.

Cara Membuat Kartu Gambar Buah

  • Membuat mal gambar buah- buahan
  • Mengukur dan memotong papan triplek atau mika putih dengan Ukuran 15 cm x 20 cm sebanyak 12 buah
  • Meletakkan mal dan mencetak gambar buah-buahan tersebut dimasing -masing triplek yang sudah disedikan kemudian menyemprotkan cat semprot dengan warna yang sesuai dengan buah tersebut.
  • Mengeringkan gambar tersebut hingga catnya mengering.
  • III. Cara Membuat Angka
  • Angka dibuat dari papan triplek atau mika berwana putih kemudian memotong triplek tersebut dengan ukuran 3 cm x 8 cm sebanyak 10 buah.
  • Membuat mal angka 1-10. kemudian di atas triplek mika tersebut di letakkan mal angka-angka 1-10 dimasing masing potongan tadi untuk dicetak dengan cat semprot. Setelah cat mengering dibagian atas kartu angka diberi lubang dan kawat satu persatu untuk penyangkut.

Cara Penyajian

Penyajian atau pelaksanaan dari Permainan Mengenal angka Warna Buah Melalui Pohon Pintar dilaksanakan secara kelompok dengan metode praktek langsung dan pemberian tugas. Permainan ini dapat dilaksanakan di dalam maupun di luar kelas, yang penting suasana yang di rasakan anak lebih bervariasi dan menyenangkan. Adapun cara penyajian dari permainan ini adalah sebagai berikut :

  • Guru mengkondisikan anak dan memeriksa kehadiran anak.
  • Guru mengucapkan salam kepada anak, dan anak membalas salam.
  • Guru mengajak dan membimbing anak bersama – sama untuk membaca do’a sebelum belajar dan membaca ayat-ayat pendek.
  • Guru menyediakan alat peraga atau media yang digunakan.
  • Guru memperkenalkan Permainan Mengenal angka Warna Buah Melalui Pohon Pintar kepada anak dengan menggunakan metode tanya jawab.
  • Guru menjelaskan cara memainkan alat permainan tersebut kepada anak dengan cara memperagakannya serta menetapkan aturan bermain, adapun cara memainkannya adalah : Anak disuruh mengambil angka dan meletakkan kepada guru angka berapa yang ia ambil, Lalu anak menggantungkannya ke pohon pintar, Anak disuruh mengambil buah-buahan sebanyak angka yang ia ambil tadi, Anak juga dapat menyebutkan bagaimana ciri-ciri dari buah-buahan yang didapatkannya, Anak juga bisa menyebutkan warna serta rasa buah-buahan yang di ambilnya tadi,  Anak juga bisa menyebutkan buah-buahan apa saja yang ia ketahui dan ia sukai selain buah – buahan yang disediakan guru.
  • Guru menetapkan aturan bermain kepada anak agar anak dapat bermain dengan tertib sesuai aturan yang telah disepakati bersama.
  • Guru mempersilahkan atau menyuruh anak memainkan alat permainan tersebut secara bergiliran.
  • Guru memberikan motivasi atau bimbingan serta penghargaan kepada anak dalam melaksanakan permainan.
  • Apabila ada anak yang belum mampu melaksanakan kegiatan tersebut maka temanya bisa membantu anak tersebut dan guru juga dapat memberikan bimbingan latihan lebih lanjut kepada anak tersebut.
  • Guru mengadakan Tanya jawab sekaligus sebagai evaluasi terhadap permainan yang telah dilaksanakan oleh anak.
  • Guru menutup permainan dengan mengajak anak bernyanyi dan berdo’a.
  • Guru mengucap salam dan anak menjawab salam
  • Anak pulang dengan tertib sambil bersalaman dengan guru

Dimensi – Dimensi yang dikembangkan dalam Permainan Mengenal angka Warna Buah Melalui Pohon Pintar

  • Pengembangan moral, agama, disiplin, dan efektif. Dalam permainan ini  anak  memiliki  rasa  tanggung  jawab  melalui pelaksanaan-pelaksanaan, peraturan-peraturan yang harus dipatuhinya. Anak tunduk dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan agar permainan dapat berjalan dengan lancer, efektif dan efisien.
  • Pengembangan Sosial. Dalam permainan ini dapat juga mengembangkan sosial anak. Apabila ada anak yang belum berhasil dengan senang hati kawannya membantu menunjukan sehingga merasa bangga atas keberhasilan nya, anak dapat menghargai keberhasilan sesama teman.
  • Pengembangan Emosi. Anak merasa gembira dalam permainan tersebut, memiliki rasa kasih sayang terhadap ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
  • Pengembangan bahasa. Anak memiliki pengertian dasar dan pendaharaan bahasa yang diperlukan untuk bercakap-cakap dan memahami pembicaran orang lain, misalnya anak mengenal segala sesuatu yang ada di lingkungan hidupnya, sifat-sifat benda yang ada di sekitarnya.
  • Pengembangan Kognitif. Dengan permainan mengenal angka warna buah melalui pohon pintar dapat mengembangkan kognitif dan menambah pengetahuan anak tentang bermacam-macam buah-buahan, serta ciri-ciri dari buah-buahan tersebut, dan dapat membilang dengan konsep bilangan.
  • Pengembangan Motorik. Permainan ini dapat mengembangkan motorik halus seperti: ketelitian dan koordindsi otot-otot kecil yaitu mata dan tangan dapat berkembang, hal ini bias dilihat saat anak menggantungkan buah dan angka kepohon pintar dan dapat mengembangkan  motorik kasar anak seperti:  bergeraknya seluruh anggota tubuh disaat anak berlari menggantungkan buah dan angka tersebut.

 Daftar Pustaka

4 thoughts on “Permainan Pohon Pintar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s