Menimbang perasaan

Kuceburkan diriku dalam laboratorium kehidupan sebuah kota,

kukaji kembali isyarat-isyarat alam

yang mengantarkan beribu harapan dan kekecewaan.

Aku tak tahu lagi gaya bahasa apa yang masih layak dipakai

 

Sementara kita merasa hidup di awang-awang.

Seperti serpihan-serpihan meteor,

Kita diombang-ambingkan waktu,

Sedangkan angin mulai membakar mimpi melayang-layang diterpa perasaan.

Sungguh hanya bayangan sesaat yang berkelebat mengganggu nurani,

Mencari jangkauan kepuasan yang tak berwujud.

 

Aku saksikan, mereka menorehkan kata-kata yang paling kejam

Diseluruh permukaan kulit masing-masing,

Melumuri setiap lobang luka dengan janji-janji surgawi.

Kemudian akhirnya terbuai ruang-ruang kosong.

Tak beda dengan helai-helai kertas yang disergap panas api.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s