PerMaiNan

Pentingnya Permainan Bagi Anak

Oleh: Novrianti Yusuf

Masa anak-anak adalah masa yang paling rentan bagi pola pikir anak dimasa depan. Terkadang sering terlihat orang tua lebih terkesan memaksakan kehendak agar anaknya memiliki kecerdasan yang baik dengan memasukkan anak keberbagai kegiatan yang bersifat monoton, yang lebih terkesan banyak belajar secara serius dibandingkan dengan bermain. Kesalahan konsep orang tua sering terletak pada makna bermain dan manfaat bermain itu sendiri, sehingga terkadang orang tua begitu cemasnya melihat anaknya lebih dominan bermain dari pada belajar.

Saya bersaudara dibesarkan dalam lingkungan orang tua yang beragam latar pendidikannya. Namun demikian saya memiliki kebanggaan sendiri atas segala pola pendidikan yang diberikan oleh orang tua kami. Sebagai hasil dari pola pendidikan yang diberikan oleh orang tua, memberikan dampak yang positif hingga saat ini. Semasa kanak-kanak saya tidak diikat dengan proses belajar yang monoton, namun mereka menjadikan belajar melalui bermain. Kemampuan membaca dan minat baca yang tinggi saya dapat dari kebebasan orang tua untuk memperoleh bacaan apapun sesuai dengan minat saya. Tentu saja ragam bacaan yang saya baca juga diketahui oleh orang tua, sehingga bacaan yang tak layak pun luput dari “makanan” saya. Ini adalah salah satu dari sekian keberhasilan orang tua saya dalam mendidik, melalui pola belajar sambil bermain.

Bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak. Sebelum bersekolah, bermain merupakan cara yang alamiah anak untuk menemukan lingkungan orang lain dan diri sendiri dan bermain dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan demi kesenangan dan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Kegiatan tersebut dilakukan secara suka rela, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar.

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan anak secara berulang-ulang demi kesenangan dan tidak bertujuan atau sasaran akhir yang ingin dicapainya. Pada prinsipnya bermain mengandung rasa senang dan lebih mementingkan proses dari pada hasil akhir. Bila kita menghendaki adanya unsur pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan perkembangan umur dan kemampuan anak dengan demikian anak tidak menyadarinya dan tidak canggung lagi  menghadapi cara pembelajaran ditingkat lebih lanjut. Bermain membawa harapan dan antisipasi tentang dunia yang memberikan kegembiraan atau memungkinkan anak berkhayal seperti sesuatu   atau   seseorang. Bermain   merupakan   suatu   dunia   yang dipersiapkan untuk pertualang dan mengadakan telaah; suatu dunia anak-anak (Moeslichatoen, 1985:265).

Melalui   bermain   anak  belajar  mengendalikan   diri   sendiri, memahami kehidupan, memahami dunia jadi bermain merupakan cermin perkembangan anak. Bermain juga merupakan tuntutan dan kebutuhan yang esensial bagi anak pada saat harus masuk ke dunia TK. Melalui bermain anak akan dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitf, kreativitas, bahasa, emosi, sosial, nilai dan sikap hidup.

Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kreativitasnya, yaitu melakukan kegiatan yang mengandung kelenturan memanfaatkan imajinasi atau ekspresi diri. Kegiatan-kegiatan pemecahan masalah, mencari cara baru dan sebagainya dan melalui permainan anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya seperti membina hubungan dengan anak lain, bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat, menyesuaikan diri dengan teman sebaya dapat memahami tingkah lakunya sendiri, kelompok dan memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Hal-hal inilah yang semestinya diperhatikan oleh orang tua dalam memberikan pendidikan pada anaknya di rumah, maupun guru asuhnya di taman kanak-kanak.

Kegunaan Bermain

Jangan pernah menyangka bahwa anak yang disibukan dengan bermain maka akan kehilangan kesempatannya dalam mendapatkan pembelajaran. Di TK semua aktivitas dilakukan melalui bermain sambil belajar akan memungkinkan anak meneliti lingkungan mempelajari segala sesuatu dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Bermain juga meningkatkan    perkembangan sosial anak. Dengan menampilkan bermacam peran anak berusaha untuk memahami peran orang lain dan menghayati peran (Moeslichotoen,  1979). Bermain membantu perkembangan sosialisasi agar tidak saja menyesuaikan dengan orang atau situasi yang baru dikenalnya tetapi juga membina     serta     mempertahankan     hubungan     dengan     teman-temannya, belajar mengendalikan diri, mau berbagi, mau menunggu giliran dan seterusnya (Sudono, 2005)

Banyak nilai positif yang dapat diperoleh anak dalam bermain bagi perkembangan fisik, kognitif, bahasa dan sosial emosi anak-anak, Moeslichatoen, (2004), menyatakan bahwa bermain berguna bagi anak untuk:

1.      Menghindari pertentangan

2.      Berbagi kesempatan atau giliran

3.      Menuntut hak dengan cara yang dapat diterima

4.      Mengkomunikasikan keinginan yang dapat diterima.

Menurut Kunto Purboyono (2004 : 60), manfaat bermain antara lain :

a. Fisik

Bermain aktif seperti berlari, melompat, melempar, memanjat dan sebagainya membantu anak mematangkan otot-otot dan melatih keterampilan anggota tubuhnya.

b. Terapi

Dalam kehidupan sehari-hari anak butuh penyaluran bagi ketegangan sebagai dari batasan lingkungan. Dalam hal ini bermain membantu anak mengekspresikan perasaan-perasaannya dan mengeluarkan energi yang tersimpan sesuai dengan tuntutan sosialnya.

c. Edukatif

Melalui permainan dengan alat-alat anak dapat mempelajari hal-hal baru yang berhubungan dengan bentuk, warna, ukuran dan tekstur suatu benda semakin besar, anak mengembangkan banyak keterampilan baru dalam permainan dan olah raga dimana kesempatan terserbut sangat membantu pengembangan diri anak yang tidak bisa mereka peroleh hanya melalui buku-buku disekolah.

d.  Kreatif

Anak dapat bereksperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik dengan menggunakan alat bermain maupun tidak. Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik ia akan melakukannya kembali dalam situasi lain.

e. Pembentukan konsep diri.

Melalui bermain anak belajar mengenali dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Ia menjadi tahu apa saja kemampuannya dan bagaimana perbandingannya dengan kemampuan anak-anak lain. Hal ini memungkinkan anak membentuk konsep diri yang lebih jelas dan realistik. Melalui bermain anak juga menghadapi berbagai macam peran di mana ia dapat memilih dan mempelajari peran mana yang paling cepat bagi dirinya.

f. Sosial

Bermain dengan teman-teman sebaya membuat anak belajar membangun suatu hubungan sosial dengan anak-anak lain yang belum dikenalnya dan mengatasi berbagai persoalan yang ditimbulkan oleh hubungan tersebut. Melalui permainan kooperatif, misalnya, anak belajar memberi dan menerima.

g. Moral

Bermain memberikan sumbangan yang sangat penting bagi upaya memperkenalkan moral kepada anak. Di rumah maupun sekolah ia belajar mengenai norma-norma kelompok, mana yang benar dan mana yang salah, bagaimana bersikap adil, jujur dan sebagainya.

Fungsi Bermain

Selain bermanfaat yang besar, bermain juga memiliki fungsi yang utama bagi perkembangan anak. Menurut (Moeslichatoen, 2004) ada delapan fungsi bermain:

a.       Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa,

b.      Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata seperti mengajar, mengendarai bus, menggarap sawah.

c.       Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup  nyata ibu memandikan adik, ayah membaca  koran, kakak mengerjakan tugas sekolah.

d.      Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng, menepuk-nepuk air.

e.       Untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima seperti berperan sebagai pencuri, menjadi anak nakal, pelanggar lalu lintas, dll.

f.       Untuk kilas balik peran-peran yang biasa dilakukan seperti gosok gigi, sarapan pagi, naik angkutan kota.

g.      Mencerminkan pertumbuhan seperti tumbuhan semakin bertambah tinggi, tubuhnya semakin gemuk dan semakin dapat berlari cepat.

h.      Untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalah seperti menghias ruangan, menyiapkan jamuan makan dan pesta ulangtahun.

Bermain juga berfungsi untuk mempermudah perkembangan kognitif anak, karena dengan bermain akan memungkinkan anak meneliti lingkungan, mempelajari segala sesuatu dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Bermain juga meningkatkan perkembangan sosial anak. Dengan penampilan bermacam peran, anak berusaha untuk memahami peran orang lain dan menghayati peran yang akan diambilnya setelah ia dewasa kelak.

Tujuh pandangan utama tentang bermain menurut Seto (1978), yaitu:

1. Surplus energy

Dalam pandangan ini dikatakan, bermain merupakan penyaluran energi yang berlebihan. Anak-anak yang memperoleh cukup gizi dan waktu beristirahat umumnya memiliki elebihan energi sehingga untuk membuang energi ekstra tersebut dapat dilakukan kegiatan bermain.

2. Relaxtion dan recuperation

Pandangan ini menyatakan bahwa bermain merupakan cara seseorang untuk menjadi lebih santai dan segar (relaxing and refreshing) setelah tersalurnya energi. Frekuensi bermain anak menunjukkan adanya kebutuhan untuk lebih santai setelah bersusah payah mempelajari keterampilan dan konsep-konsep baru. Dalam pandangan ini isi kegiatan permainan tidak terlalu menjadi penekanan.

3. Preparation

Sebagai suatu perilaku instensif di mana anak-anak mempraktekan elemen-elemen yang lebih kecil dari sejumlah perilaku orang dewasa yang lebih kompleksi misalnya memandikan boneka dilihat sebagai praktek mengasuh (parenting) anak

4. Recapitulation

Pandangan ini mencoba menemukan hubungan antara kegiatan bermain dengan evaluasi kebudayaan. Disini ditekankan bahwa setiap anak kembali melakukan berbagai perilaku manusia dewasa yang tampil selama masa tradisi antara zaman berburu hingga zaman modern saat ini.

5. Gouwth dan enhancement

Pandangan menyatakan bahwa bermain merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan anak dengan bermain anak melatih berbagai keterampilan baru dan menyempurnakannya. Pandangan ini menekankan pentingnya bermain bagi anak untuk menuju kematangannya.

6. Socioe motionel expression

Pandangan ini ada dua penjelasan tentang bermain, pertama bermain merupakan ekspresi simbolik dari suatu harapan kedua merupakan upaya pengendalian pengalaman-pengalaman yang menegangkan kedua pandangan ini melihat bermain sebagai sarana menyalurkan emosi

7. Cofnitive restructuring

Menyatakan bermain adalah suatu upaya asimilasi yaitu proses dimana organisme menerapkan struktur yang sudah ada tanpa modifikasi terhadap aspek-aspek baru dari lingkungan yang dihadapinya.

Untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki untuk anak di dalam bermain diperlukan bermacam-macam alat permainan sehingga anak lebih bebas untuk berekplorasi. Beberapa contoh permainan pada masa kanak-kanak adalah :

1.         Permasalahan yang sederhana dan biasa dilakukan dalam keluarga bersama orang tua atau saudara-saudara sebelum anak berusaha satu tahun.

2.         Permasalahan individual pada usia empat tahun anak melakukan permainan menguji kemampuan yang sebelumnya.

3.         Permainan bersama teman saat anak-anak mempunyai persamaan individual mereka juga mulai berminat dengan kegiatan teman-temannya

Menurut Frank dan Theresa Caplan Hildebrand (Moselichatoen, 1986 :55-56) mengemukakan ada enam belas nilai bermain bagi anak :

1.         Bermain membantu pertumbuhan anak

2.         Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela

3.         Bermain memberi keebasan anak untuk bertindak

4.         Bermain memberikan dunia khayal yang dapat dikuasai

5.         Bermain mempunyai unsur pertualangan di dalamnya

6.         Bermain meletakan dasar pengembangan bahasa

7.         Bermain mempnyai pengaruh yang unik dalam pembentukan hubungan antar pribadi

8.         Bermain memberi kesempatan untuk menguasai diri secara fisik

9.         Bermain memperluas minat dan pemusatan perhatian

10.     Bermain merupakan cara anak untuk menyelidiki sesuatu

11.     Bermain merupakan cara anak mempelajari peran orang dewasa

12.     Bermain cara dinamis untuk belajar

13.     Bermain menjernihkan bertimbangan anak

14.     Bermain dapat distruktur secara akademis

15.     Bermain merupakan kekuatan hidup

16.     Bermain merupakan sesuatu yang esensial bagi kelestarian hidup manusia.

Anak-Anak Belajar Melalui Interaksi dengan Alat-Alat Permainan dan Perlengkapan

Dunia bermain tentunya tidak lepas dari peralatan bermain yang menunjang imajinasinya, sehingga pengalaman bermain tersebut memiliki makna belajar bagi anak. Lingkungan belajar anak perlu diperkaya dengan pengalaman-pengalaman belajar, hal ini dapat dilakukan dengan memilihkan alat-alat permainan dan perlengkapannya, hendaknya didasarkan pada sejumlah kriteria sebagai berikut:

a.        Sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak

b.        Ada kaitan dengan filosofi yayasan taman kanak-kanak dan kurikulum

c.        Mencerminkan desain yang bermutu

d.       Tahan lama

e.        Fleksibel dan multifungsi dalam penggunaan

f.         Aman bagi anak (cat tidak beracun, tidak tajam atau lancip sisi dan sudut-sudutnya)

g.        Bentuk dan wamanya menarik

Alat permainan tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan anak untuk memenuhi naluri bermainnya. Racam alat permainan sangat beragam,  yang bersifat bongkar pasang, mengelompokkan memadukan mencari pada, merangkai membentuk mengetok, menyempurnakan suatu disain. Menyusun sesuai dengan bentuk utuhnya dan lain-lain. Selagi bermain dengan alat permainan anak akan mendapatkan masukan pengetahuan untuk ia ingat. Alat permainan merupakan bahan mutlak bagi anak untuk mengembangkan dirinya yang menyangkut seluruh aspek perkembangannya. Menurut Mayke Sugianto T (Cucu Eliyawati, 1995:62) alat permainan edukatif alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan dan mempunyai beberapa ciri-ciri untuk anak usia dini sebagai berikut :

1.      Ditujukan untuk anak usia dini

2.      Berfungsi untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak usia dini

3.      Dapat digunakan dengan berbagai cara, bentuk dan untuk bermacam tujuan aspek perkembangan atau bermanfaat multiguna

4.      Aman atau tidak berbahaya bagi anak

5.      Dirancang untuk mendorong aktivitas dan kreativitas

6.      Bersifat konstruktif atau ada sesuatu yang dihasilkan

7.      Mengandung nilai pendidikan

Syarat Alat Permainan menurut Kamtini dan Husni Wardi Tanjung (2005:9) adalah :

1.      Tidak berbahaya

2.      Mudah diperoleh

3.      sebaiknya dibuat sendiri

4.      Berwarna dominan

5.      Tidak mudah rusak

6.      Ringan atau yang berat tetapi tidak dapat dpisahkan oleh anak

Alat-alat permainan hendaknya memenuhi syarat untuk mengembangkan berbagai keterampilan anak sesuai dengan tingkat usia dan sebaiknya memiliki sifat open ended artinya alat-alat tersebut dapat digunakan sesuai aturan dan bentuk dasarnya juga dapat dikembangkan dalam berbagai cara, misalnya permainan balok, plastisin atau tanah liat, permainan bak pasir, lasy dan lotto. Alat-alat permainan ini dapat dimainkan anak-anak sesuai aturan mainnya. Seiring dengan berkembangnya keterampilan mereka, alat-alat ini dapat dimainkan juga dengan cara yang lebih rumit.Anak-anak merupakan pembelajar yang aktif. Oleh karena itu, alat-alat yang digunakan hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada kepada mereka untuk bereksplorasi memanipulasi, membentuk pengalaman dan semua anak akan terlibat dalam bermain dengan alat tersebut.

Jenis permainan ini harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan, usia dan kemampuan anak sehingga semua jenis permainan berangsur-angsur dapat dikembangkan mulai dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih besar) ke tingkat belajar sambil bermain (unsur belajar lebih besar). Anak-anak pada usia ini belum mampu belajar secara serius karena pada masa-masa ini adalah dunia yang diwarnai dengan bermain, bernyanyi dan berkhayal atau berfantasi dengan aktifnya daya motorik menyebabkan anak-anak tidak tahan berlama duduk didalam kelas, apalagi mengerjakan kegiatan”pensil-kertas”. Bila dipaksakan anak akan tertekan dan dampaknya sangat negative bagi perkembangan mentalnya kelak.

Berada di tengah-tengah anak-anak yang sedang bermain selain dapat mengamati, Anda harus dapat mengetahui saat yang tepat untuk melakukan atau menghentikan intervensi. Bila anda kurang memahami secara benar dan tepat anak akan menjadi frustasi atau tidak kooperatif . Dari bahasa tubuh anak, dapat di ketahui kapan anak-anak membutuhkan campur tangan anda dalan permainan mereka dan kapan anda harus melakukan intervensi.

Pemahaman tentang bermain juga akan menbuat Anda lebih luwes terhadap kegiatan bermain itu sendiri. Dengan demikian Anda akan memberikan kesempatan lebih banyak kepada anak-anak untuk bereksplorasi ,bereksperimen dan membuat penemuan-penemuan sehingga pemahaman tentang konsep maupun pengertian dasar suatu pengetahuan dapat di pahami anak-anak dengan mudah.

Teman-teman sekolah sebagai model dapat dijadikan sebagai sumber belajar karena anak merasa lebih mudah belajar dari teman-teman sebaya serta dapat memperoleh keuntungan dan latihan atau penyesuaian kebutuhan dengan anak lain. Anak – anak dapat belajar dari teman sebagai model. Pengetahuan lingkungan fisik dipelajari anak-anak melalui alat -alat indranya.Mengamati daun – daun bergerak di tiup angin, memegang boneka, rumput atau daun-daun kering yang kasar, mencium bau masakan ibu, mendengar bunyi klason mobil ayah, merasakan asamnya air jeruk, semuanya merupakan contoh anak belajar dengan benda. Mereka belajar mengecap, mencium bau, dan lain-lain indra penglihat merupakan indra yang paling dominan bagi anak kecil lingkungan kelas, dimana hampir semua kegiatan anak dominan untuk anak kecil lingkungan kelas, dimana hampir semua kegiatan anak dilakukan. Sangat penting karena anak-anak sangat sensitif untuk menyerap semua kesan (impresif) alat indra dari dunia luar.

Selain fakta-fakta diatas, lingkungan fisik juga harus memperhatikan kenyamanan anak dalam bermain. Ruang-ruang hendaknya diatur sedemikian rupa agar penataannya harus selalu disesuaikan dengan ruang gerak anak dalam bermain dan tidak menghalangi interaksi anak-anak dengan guru atau dengan teman-temannya. Lingkungan merupakan tempat yang aman sangat penting karena pikiran anak-anak yang sensitive menyerap semua kesan yang berhubungan dengan indra dari dunia luar.

Untuk memenuhi kebutuhan fisik anak-anak, anda harus dapat menjamin bahwa dalam lingkungan bermain anak-anak merasa aman. Terlindungi serta ramah sehingga anak-anak merasa dihargai sebagai anak. Kondisi sosial ekonomi keluarga memperkuat kebutuhan akan program pembelajaran yang menunjang perkembangan sosial dan emosional anak-anak

Pengenalan atau ransangan perlu diberikan sebelum anak mencapai kematangan atau kemampuan tertentu, kemudian dengan kemapuan tersebut anak dapat mencapai tahap kemampuan baru. Pemaksaan pelatihan kepada anak sebelum tercapai kematangan akan mengakibatkan kegagalan atau kurang berhasil. Kegagalan juga dapat menimbulkan kekecewaan pada anak yang menyebabkan anak malas berusaha lagi dan pemaksaan menimbulkan rasa tertekan pada anak.

Kematangan merupakan penentu dalam belajar hal itu memberikan pola berfikir dan berperilaku bagi anak yang sedang belajar. Metode yang digunakan henaknya metode bermain yang dapat membantu anak-anak memahami sesuatu hal dengan rileks, santai tanpa paksaan sedikitpun. Membantu mereka untuk merasa aman dan dapat menghargai serta menerima diri sendiri dalam segala aktivitas yang mereka lakukan. Anak harus menikmati proses pembelajaran yang terjadi pada setiap kegiatan baik secara individual maupun dalam kelompok kecil, kelompok besar dan di area-area.

Banyak orang termasuk orang tua dan guru sering menafsirkan salah, bahwa kecepatan belajar pada anak-anak kecil merupakan indikasi dari kepandaian seseorang, demikian juga sebaliknya. Mengingat tingkat perbedaan kecepatan belajar anak serta cara belajar yang bervariasi maka dalam mengimplementasikan program pembelajaran yang sudah ditetapkan dalam pengembangan kompetensi perlu memberikan pelayan terhadap anak secara individu. Pelayanan individu dalam program pembelajaran juga harus mempertimbangkan macam-macam perbedaan, yang terdapat dalam kelompok anak seusianya. Perbedaan tersebut dapat diketahui dengan adannya bermacam-macam tingkat keterampilan, minat, daya konsentrasi, serta kebutuhan-kebutuhan pembelajaran individual, jadi pelaksanaan program pembelajaran hendaknya berbeda bagi anak-anak yang cepat atau yang lambat perkembangannya, bagi anak yang terganggu penglihatannya, serta anak yang mengalami masalah bicara dan bahasa

Anak-anak dapat belajar lebih mudah dan lebih banyak bila ada seseorang disekitarnya yang dapat membantu menjelaskan atau memberikan bimbingan. Meskipun pengaturan lingkungan belajar untuk merangsang anak bermain dan belajar telah dilakukan dengan baik namun anak- tetap membutuhkan orang lain yang lebih berpengalaman untuk mengoptimalkan pembelajaran. Kesan anda yang bijaksana, terampil, dan penuh kasih sayang sangat membantu. Dengan kelembutan dan keramahan berbicara akan lebih mudah menyentuh perasaan anak. Tugas kita adalah membuat anak mampu belajar dan menemukan diri sendiri bagaimana memperbaiki sikapnya. Bukan dengan menakut-nakuti, memarahi, mempermasalahkan atau menghukum, mengancam atau acuh tak acuh terhadap anak.

Setiap anak memiliki gaya belajar, kepribadian, minat dan kemampuan yang unik. Keunikannya juga dapat dilihat dari perbedaan keadaan jasmani, kecerdasan dan tingkat perkembangannya. Sebagai guru diharapkan anda dapat mencipkan kegiatan-kegiatan pembelajaran secara individual, kelompok kecil maupun klasikal. Masa kanak-kanak pada dasarnya sangat berlainan dengan masa dewasa, ia perlu dimengerti dan dihargai sebagaimana adanya.

Banyak pembelajaran yang dapat diambil dari sebuah kata bermain bagi seorang anak. Kecil nilainya bagi orang dewasa, besar dampaknya bagi kecerdasan dan kemampuan otak anak yang akan berdampak langsung pada saat anak ketika dewasa. Nah, sekarang bila kita adalah orang dewasa yang perduli, masihkan kita mengukung kebebasan bermain anak dengan segala larangan dan aktivitas yang monoton.

DAFTAR PUSTAKA

B.E.F. Montolalu,dkk, 2005. Materi Pokok Bermain Dan Permainan Anak. Jakarta : Universitas Terbuka

Tadkiroatum Musfiroh, 2005. Bermain Sambil Belajar Dan Mengasah Kecerdasan. Jakarta : Depdikbud

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s